Zero waste adalah upaya maksimal meminimalisir food waste.
Inspirasi Dapur

5 Cara Mencegah Pemborosan Makanan dari Rumah


Di era modern ini banyak sekali jenis pangan yang diproduksi. Dari jenis buah dan sayuran yang semakin beragam di pasaran, hasil alam dan olahan di supermarket, hingga pilihan menu di restoran dan on line. Di satu sisi, akses makanan semakin terbuka dan harganya bisa dibilang semakin terjangkau. Tapi di sisi gelap, kita mungkin melewatkan satu hal. Saat makanan menjadi lebih berlimpah, itu mungkin sampah makanan juga diperbesar.

Definisi limbah makanan

Jadi apa-apaan ini sampah makanan bahwa? Untuk itu kita harus membedakannya dulu kehilangan makanan – seolah-olah definisi yang mirip tetapi berbeda. Menurut FAO, kehilangan makanan adalah penurunan kualitas dan kuantitas pangan yang terjadi pada produsen dan rantai pangan pemasok. Hal ini dapat disebabkan oleh masalah infrastruktur logistik, iklim, dan masalah standardisasi kualitas, kesehatan dan keselamatan.

Berbeda dari sampah makanan yang berspesialisasi dalam rantai konsumen. Sederhananya, sampah makanan terjadi karena makanan yang seharusnya dikonsumsi dibuang atau tidak dikonsumsi oleh konsumen. Ini karena, misalnya, makanan dibuang sebelum tanggal kadaluwarsanya. Atau keputusan konsumen untuk tidak mengkonsumsinya karena masalah standardisasi kualitas, estetika, atau keamanan.

Mengapa ini mengkhawatirkan?

Fakta menunjukkan bahwa hampir 1/3 dari makanan yang diproduksi di bumi akan dibuang karena berbagai alasan. Ini setara dengan 1,3 miliar ton per tahun. Menariknya, sampah makanan sering terjadi di negara maju. Pada tahun 2010 saja, rata-rata setiap warga negara Amerika Serikat menyia-nyiakan makanan hingga 99 kg.

Mengapa hal ini menarik banyak pihak untuk menyuarakan keprihatinannya? Pertama, karena masih banyak orang di dunia lain yang membutuhkan makanan sehari-hari, tindakan sampah makanan yang bisa dihindari seolah-olah itu dianggap tidak sensitif.

Kedua, makanan yang dibuang akan mengakibatkan penumpukan sampah rumah tangga. Tak jarang hal ini menimbulkan bencana seperti tanah longsor atau hal lain yang berdampak negatif bagi bumi. Ketiga, sampah makanan itu juga berkontribusi pada pemborosan air. Menurut Institut Sumber Daya Dunia, 24% air yang digunakan di lahan pertanian di seluruh dunia terbuang percuma sampah makanan dan ini setara dengan 170 triliun liter air!

Solusi rumah tangga untuk sampah makanan

Lantas, apa yang bisa kita lakukan dari tingkat rumah tangga dulu? Banyak, tentu saja! Marilah kita merawat bumi kita dan melakukan hal-hal berikut ini.

1. Berbelanja dengan hati-hati

Ini adalah langkah pertama terpenting yang bisa kita ambil. Dengan perencanaan yang matang, kita bisa berbelanja sesuai kebutuhan kita. Satu penelitian menarik dari The University of Arizona mengungkapkan bahwa berbelanja produk grosir sebenarnya akan meningkatkan kemungkinan terjadinya hal itu sampah makanan. Tentu saja kita mudah tertarik dengan harga grosir yang lebih murah, tapi tanyakan pada diri kita sendiri, apakah kita membutuhkan sebanyak itu dan yakin dapat membelanjakannya? Jika tidak, lebih baik kita berbelanja sesuai kebutuhan.

Cara lainnya adalah dengan berbelanja lebih sering untuk memenuhi kebutuhan yang kurang. Pada masa pra-pandemi, hal ini mungkin dianggap tidak efisien, tetapi saat ini semakin banyak toko on line yang dapat dengan cepat mengirimkan bahan makanan dengan segar. Manfaatkan kemudahan ini, apalagi banyak penawaran gratis ongkos kirim, bukan?

2. Cara penyimpanan makanan yang benar

Selain perencanaan belanja yang disesuaikan dengan kebutuhan Anda, penyimpanan makanan juga harus dilakukan dengan tepat. Banyak kasus sampah makanan yang bisa diantisipasi hanya dengan menjaga kualitas makanan di rumah. Jika Anda salah menyimpannya, yang terjadi adalah makanan cepat rusak dan basi.

Misalnya, sayuran seperti kentang, bawang putih, dan bawang bombay harus disimpan dalam suhu ruangan. Sayuran berdaun dan hijau harus didinginkan dan dikonsumsi segera setelahnya. Ini karena mereka cenderung layu dan menurun kualitasnya.

Selain itu, bahan makanan yang mengandung gas etilen harus dipisahkan. Buah-buahan seperti pisang, alpukat, tomat, melon, pir, Persik, jadi sayuran seperti daun bawang dapat dengan cepat membusuk karena gas inilah yang mematangkannya. Jauhkan juga dari makanan yang sensitif terhadap gas tersebut seperti kentang, apel, sayuran hijau, beri, dan paprika.

3. Bersyukur atas makanan di sana

Seseorang membuang sisa makanan ke tempat sampah.
Ada banyak cara untuk menghindari pemborosan makanan. (Foto: Shutterstock)

Mengapa bersyukur? Karena kita mungkin tergoda untuk membuang makanan yang menurut kita bentuknya kurang menarik, padahal dari segi kandungan gizinya sebenarnya tidak kalah. Karena kita terbiasa membeli barang halus di supermarket, ada anggapan bahwa buah atau sayur yang tidak lancar berarti sudah basi atau tidak enak. Padahal belum tentu, dan saat ini banyak supplier buah dan sayuran segar yang menjualnya dengan harga diskon.

4. Gunakan kembali sisa makanan

Sampah makanan bisa juga terjadi karena kecenderungan manusia untuk membuang makanan yang tidak habisnya. Padahal masih banyak makanan yang masih layak dikonsumsi keesokan harinya jika kita menyimpannya terlebih dahulu di lemari es dengan cara yang benar. Bahkan banyak juga makanan yang bisa diolah kembali sehingga bisa menjadi masakan baru yang tidak kalah nikmatnya.

5. Jadikan sisa makanan sebagai kompos

Sisa di tempat sampah.
Sisa makanan dapat digunakan kembali sebagai kompos. (Foto: Shutterstock)

Gerakan tanam kini semakin banyak terjadi di perkotaan, bahkan di tempat-tempat yang lahan pertaniannya sangat terbatas. Sisa makanan, buah, sayur, hingga ampas teh atau kopi bisa dijadikan kompos yang bisa menyuburkan tanaman. Bahkan, tidak jarang seseorang menanam jamu dan sayuran sederhana dari balkon sebuah apartemen di Jakarta. Dengan ini, kami juga mengurangi jumlah sampah yang harus dibuang. Mengenai kompos, kita bisa mempelajari metode dan metodenya dari berbagai sumber.

Jadi, setidaknya ada lima cara sederhana yang bisa kita lakukan untuk mengurangi dampak tersebut sampah makanan. Namun tentu saja bukan berarti kita harus selalu membatasi jumlah pengeluaran kita, karena kita bisa menghabiskan lebih banyak untuk berbagi dengan orang lain. Berdonasi berarti juga membantu menyebarkan kebahagiaan melalui makanan lezat yang kita nikmati sehari-hari. Jadi, belanja tentunya tidak akan sia-sia dan tidak beralasan sampah makanan. Semoga artikel singkat ini dapat menginspirasi kita semua untuk lebih bijak dengan makanan yang kita konsumsi dan membantu menjaga bumi bersama!



Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *